GENDANG AJAIB

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Hikaru. Kedua orang tua mereka telah lama meninggal. Hikaru sangat rajin membantu kakaknya menjual kayu di pasar. Tiap hari, ia masuk ke hutan untuk mencari kayu.
Suatu hari, saat ia berada di hutan, tiba-tiba terdengar rintihan kesakitan.
Kakek : “Tolong… tolong…
Hikaru : (Hikaru segera mencari asal suara itu).
Dan, tampak seorang kakek tertindih dahan besar.
Kakek : “Nak! Tolong aku! Aku sudah tak tahan lagi.”
Hikaru : “Kek, aku akan menghitung sampai tiga. Pada hitungan ke tiga, Kakek lompat
keluar, ya! (Memaki sebatang kayu untuk mencungkil dahan pohon). Satu… dua…
tiga…
Kakek : “Kau sangat baik, Nak! Hadiah apa yang kau inginkan?”
Hikaru : “Hho… hho,” (Hikaru terengah-engah) “Tidak perlu, Kek. Aku ikhlas menolong.”
Kakek : (Mengambil sebuah gendang kecil.)
Kakek : “Aku hanya punya gendang ajaib ini. Gendang ini yang satu berwarna kuning
dan yang satu lagi berwarna ungu. Terimalah!”
Hikaru : “Ajaib?”
Kakek : (Langsung menghilang)
Hikaru : “Lho… dimana kakek itu? Hii… hantuuu…” (Ia berlari keluar hutan).
Esoknya…
Hikaru : “(Tidur-tiduran). Aku tidak mau lagi ke hutan. (Berhenti sebentar). Bagaimana caranya
supaya aku dapat membantu kakak selagi ke hutan ya? (Berhenti sebentar) Lho, kok tiba-tiba aku terbayang wajah kakek itu? Tak mungkin ia mencelakakanku. Aku kan pernah menolongnya. (Hikaru lalu merogoh gendang pemberian si kakek dari tasnya). Apa benar ini gendang ajaib? (Hikaru mengamati gendang itu). (Ia memukul sisi yang kuning). Tidak terjadi apa-apa? (Hikaru memukul sisi ungu satu kali). Tidak ada yang
berubah? (Memukul sisi ungu sekali lagi) Aaah! (Hikaru kaget dan melepas gendang itu). Hidungku! Kenapa panjang begini? (Ia panik. Mengambil gendang itu dengan perlahan. Memukul sisi yang kuning).Hore! Hidungku kembali seperti semula. Ah, aku mengerti sekarang. Ini adalah Gendang Pemanjang Hidung yang banyak dibicarakan orang. Ah, asyik juga untuk mainan! Aku akan memanjang dan memendekkan hidungku sampai menembus langit ah! (Memukul sisi kuning). Lho, kok tidak bisa balik?!” (Serunya panik).
Hari mulai gelap…
Hikaru : “(Memukul gendang yang berwarna kuning sebanyak mungkin) Aaaah!”
Beberapa saat kemudian, setelah menembus awan…
Hikaru : “Lho, kok ada istana kecil di langit. (Meraba hidungnya) Akhirnya hidungku kembali
seperti semula.
Dewa Hujan : (Sambil memakai janggut menyiram air).
Hikaru : “Hei! Kenapa kau mengikat hidungku?”
Orang itu tergopoh-gopoh menghampiri Hikaru.
Dewa Hujan : “Oh, maaf. Aku tidak tahu itu hidungmu. Kukira itu tangga buatan dewa langit
untuk turun ke bumi.”
Hikaru : “Jadi kau dewa, ya?” (Hikaru mengamati orang itu).
Dewa Hujan : “Betul, aku Dewa Hujan. Kau siapa, manusia bumi?”
Hikaru : “Saya Hikaru!”
Dewa Hujan : “Begini saja. Kamu tinggal di sini, membantuku memberi hujan pada penduduk
Bumi. Bagaimana?”
Hikaru : “Baiklah, Dewa. Tapi hanya untuk sementara kan. Soalnya aku harus membantu
kakakku mencari nafkah.”
Esok sorenya…
Hikaru : “Aku mau menurunkan hujan di desaku!”
Dewa Hujan : “Baik”
Hikaru : “(Membuang air dari langit dengan baskom besar) Horeee! (melihat penduduk di
Desnya kegirang memyambut hujan) Eh, itu Kakakku!”
Tampak kakaknya lari tunggang langgang menyelamatkan pakaian yang sedang dijemur. Tiba-tiba….
Hikaru : “Aaaaah!”
Hikaru : “Waduh, sakit! Negeri apa, ini? (Dalam hati) (Berjalan megelilingi tempat itu)
Putri : (Melintasi taman)
Hikaru : “ Wah, cantik sekali dia! (Hikaru bersembunyi di balik pohon) Andai ia jadi istriku!
Aha… aku dapat akal.” (Hikaru memukul sisi yang ungu).
Putri : (Pingsan)
Sore itu juga disebarkan pengumuman oleh kerajaan Bunyinya “Barang siapa yang bisa mengobati sakit putri, jika lelaki akan dijadikan suami, jika perempuan akan dijadikan saudara.”
Berbondong-bondong tabib datang ke istana. Akan tetapi semua menyerah. Tiba-tiba seorang dukun perempuan datang.
Prajurit : “Silahkan!”
Dukun : “(Masuk ke kamar putri). Baginda, ini hanya bisa disembuhkan dengan gendang
ajaib.”
Baginda : “Baiklah. apakah gendang ajaib itu ada?
Ratu : “Ya, betul.”
Dukun : “Mungkin ada karena sudah lama menghilang. Baiklah sekarang saya akan pulang” Prajurit : “Hei… Mau apa kau kesini?”
Hikaru : “Saya mau menolong sang putri.” (Sambil menunjukkan gendang ajaib).
Prajurit : “Baiklah.”
Hikaru : “(Masuk ke kamar putri). Permisi Baginda, saya mau menolong putri.”
Baginda : “Oya, silahkan.”
Hikaru : “( Mendekati putri. Dan langsung memukul sisi yang berwarna kuning pada gendang).
Putri : “(Sambil meraba mukanya dan melihat kaca). Horeeee hidungku kembali seperti
semula.” (Sambil tidak percaya).
Baginda : “Karena kamu telah menolong putri, sesuai janji saya kamu akan saya nikahkan
dengan putri.”
Ratu : “Akhirnya anak kita menikah juga, ya!”
Baginda : “Iya, betul.”
Mereka : (Bertukaran cincin).
Dan akhirnya mereka berdua hidup bahagia dan tak lupa Hikaru menjemput kakaknya yang ada di desa untuk tinggal bersama.

Tentang taoefiq27

I'm only usual man
Pos ini dipublikasikan di Drama dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s