Hindu-Budha

a. Sejarah lahirnya agama Hindu
Di awali dengan Bangsa Arya. Bangsa Arya hidup sebagai peternak dan sering berpindah-pindah tempat di Asia. Datangnya Arya di India diperkiraan tahun 1500 SM, melalui pintu Kayber secara bergelombang dan harus berperang terlebih dahulu melawan Drawida yang kemudian berintegrasi yang akhirnya melahirkan agama Hindu. Lama kelamaan seluruh dataran rendah sebagai Indus dan Gangga berhasil diduduki dan dinamakan “Aryavarta” artinya tanah bangsa Arya, atau Hindustan, negeri orang Hindu.
Dalam proses integrasi di atas, bangsa Arya masih berusaha menjaga kemurnian bangsanya dengan diakannya sistem kasta yang dilakukan menurut kepercayaan Hindu. Dan sejak saat itu agam hindu mulai di kenal dan dikembangkan.

b. Sejarah lahirnya agama Budha

Penyusunan kitab Weda di India diakukan oleh bangsa Arya pada jaman Weda (1500 – 500 SM) slama 1000 tahun bangsa Arya berjuang menguasai India, sehingga kasta ksatria berperan penting dalam masyarakat India.
Setelah akhir masa perjuangan melawan bangsa Drawida, masyarakat mulai mementingkan kehidupan beragama sehingga pengaruh kasta menurun beralih ke kasta Brahmana.
Pada jaman ini kasta Brahmana memperoleh kedududkan yang sangat penting dalam masyarakat bangsa hindu, karena hal-hal berikut.
1. Buku. Buku sulit dimengerti oleh masyarakat biasa karena bahasanya sulit dipahami dan akibatnya menjadi monopoli golongan kasta Brahmana.
2. Hanya kasta Brahmana yang dapat memberikan petunjuk-petunjuk tentang upacara-upacara keagamaan dan peraturan-peraturan ynag harus dijalankan.
3. Kaum Brahmana dianggap sebagai perantara masyarakat dengan dewa-dewa.
Sebagai akibatnya, Kasta Brahmana membuat peraturan-peraturan yang ditulis dalam kitab-kitab Brahamana. Dan diantara peraturan-peraturan itu, terdapat susunana masyarakat berdasarkan perbedaan kasta. Hal itu dilakukan agar tetap mendapat tingkat tertinggi, salah satu caranya adalah cara mempersembahkan korban kepada dewa. Hal itu sangat penting karena jika peraturan tentang mempersembahkan korban tersebut dengan teliti diturut maka orang dapat memaksa dewa memenuhi keinginannya. Namun hal ini berlebihan sehingga menimbulkan reaksi dari kasta lain. Reaksinya seperti menjelekkan kasta Brahmana, menyangkal adanya dewa, adanya surgadan kelepasan dari samara. Akhirnya muncul paha baru yaitu agama Budha.
Agama Budha lahir tahun 513 SM, pelopor utamanya Sidharta Gautama yang berasal dari suku Sakya, dari kasta Ksatria. Orang tuanya raja Sudhodana. Ia dikawinkan dengan Jasodhara saat 16 tahun dan dikaruniai seorang anak yaitu Ragula.
Ia lebih senang mengasngkan dari di hutan daripada kehidupan istana untuk memusatkan pikiran, mencari jalan untuk melepaskan dirinya, keluarganya, dan umat manusia dari kesengsaraan. Ayahnya mencegah, namun gagal. Dalam perjalanan ia tiba di suatu tempat bernama Budh Gaya, berhenti dibawah pohon ara yang kemudian disebut pohon Bodhi, ia mendapat ilham untuk menolong sesaman manusia. Ia pun pergi untuk menyatakan ilham tersebt kepada sesame manusia. Khotbahnya yang pertama dilakukan di taman Rusa, Bunares. Sejak itu, ia menjadi seorang Budha (yang diterangi).

2. Pada awal Masehi terjadi kontak hubungan yang ramai secara timbal balik antara barat dan timur umumnya dan antara india dan Cina khususnya yang melalui perairan tanah Air Indonesia. Hubungan India-Cina mula-mula menggunakan jalur darat Asia Tengah tidak aman, maka hubungan tersebut menggunakan jalur Asia Tenggara.
Adanya hubungan dagang India – Indonesia mengakibatkan masuknya perngaruh budaya India dalam budaya Indonesia. Proses masuknya disebut “penghinduan”.
Masuk dan tersebarnya pengaruh budaya Hindu ke Indonesia dapat meyebabkan timbulnya beberapa teori yaitu Teori Sudra, teori Ksatria, teori Waisya, dan teori Brahmana. Dari 4 teori, teori Brahmana yang paling banyak mendapat pengikut. Dalam menerima pengaruh Hindu, nenek moyang bangsa Indonesia bersifat selektif. Yang diambil dan diterima hanyalah unsur-unsur budaya yang cocok dan sesuai dangan kepribadian masyarakat Indonesia. Contoh, sistem kasta di Indonesia pelaksanaannya tidak sama seperti di India.
Unsur-unsur budaya Hindu yang masuk ke Indonesia segera di Indonesiakan. Dalam proses yang lama budaya India dianggap sebagai kebudayaan bangsa sendiri, contoh huruf Pallawa yang berasal dari India Selatan di Indonesiakan menjadi huruf Kawi atau huruf Jawa Kuno.

4. Contoh hasil-hasil peninggalan budaya Indonesia bercorak Hindu dan Budha
1. Seni bangunan
Peninggalan ini berupa candi, Candi berasal dari kata candirgha yang artinya rumah Dewi Candika, dewi maut. Jadi candi adalah sebuah rumah maut atau rumah makam.Candi sebagai bangunan makam hanya terdapat di dalam agama hindu. Sedangkan candi – candi agama budha hanya dipakai sebagai tempat pemujaan Dewa belaka.
Candi melambangkan alam semesta dan tiga bagiannya:
i. Kaki candi adalah alam bawah, tempat manusia biasa
ii. Badan cani adalah alam antara, tempat manusia telah meninggalkan keduniawiannya dan dalamkeadaan suci menemui Tuhannya.
iii. Atap candi adalah alam atas tempat dewa – dewa.
Candi yang berada di Jawa Timur dan Jawa tengah memiliki perbedaan – perbedaan seperti di bawah ini:
No Langgam Jawa Tengah Langgam Jawa Timur
1 Bentuk bangunan tambun Bentuk bangunan ramping
2 Atapnya tersusun berundak – undak Atapnya merupakan perpaduan tingkatan
3 Puncak berbentuk ratna atau stupa Puncak berbentuk kubus
4 Gawang pintu dan relung berhias makara Makara tidak ada dan gawang pintu dihias oleh banaspati
5 Relief masih naturalistis Relief sudah disetilir, seperti wayang kulit
6 Letak candi di tengah halaman Letak candi di bagian belakang halaman
7 Umumnya menghadap ke timur Umumnya menghadap ke barat
8 Bahan dari batu andesit atau batu kali Bahan dari batu merah
Candi di bagian Jawa tengah utara yang terpenting sebagai berikut:
1. Candi gunung wukir di Magelang yang berhubungan dengan prasasti Canggal ( 732 M).
2. Candi badut, dekat Malang yanag berhubungan dengan prasasti Dinoyo ( 760 M)
3. Candi DIeng
4. Candi gedong songo di lereng gunung Ungaran.
Candi di bagian Jawa tengah selatan yang terpenting sebagai berikut:
1. Candi Kalasan di dekat Yogyakarta.
2. Candi Sari yang teletak dekat dengan Candi Kalasan
3. Candi Borobudur dengan punden berundak, yang tujuannya untuk menggambarkan:
a. Kamadhatu yaitu bagian kaki candi yang tertimbun dan tertutup batu – batu rata.
b. Rupadhatu yaitu bagian 4 lorong dengan pagar – pagar tembok dan penuh hiasan dengan relief.
c. Arupadhatu yaitu bagian atas yang terdiri dari tiga tingkat berbentuk bulat.
d. Puncak berupa sebuah stupa yang besar sekali, menggambarkan kedudukan Ali Budha dalam agama Budha.
4. Candi Mendut yang terletak di sebelah timur Borobudur
5. Candi Sewu di dekat Desa Prambanan
6. Candi Plaosan di sebelah timur candi Sewu
7. Candi Roro Jonggrang di desa Prambanan
8. Candi di bagian Jawa tengah selatan yang terpenting sebagai berikut:
Candi di bagian Jawa Timur yang terpenting sebagai berikut:
1. Candi Kidal, dekat Malang
2. Candi Jago, dekat Malang
3. Candi Singasari, dekat Malang
4. Candi Jawi, ekat Prigen
5. Candi Penataran, dekat Blitar
6. Candi Muara Rakus, dekat Padang Sidempuan
2. Seni Patung
Patung merupakan arca induk dalam candi, patung – patung harus dibuat dengan menggambarkan dewa atau dewinya
Patung agama Hindu ( Dewa – Dewa Trimurti ) meliputi:
1. Brahma, dengan ciri – ciri: bermuka empat, tangan empat, membawa bunga dan pustaka
2. Wisnu, degan ciri – ciri : bertangan empat,memegang cakra, kulit kerang, gada dan perwita
3. Cita Mahadewa, dengan ciri –ciri: Ardacandra ( bulan sabit di bawah mankok), bermata tiga( yang ketiga didahi ),uparita ular dan caturbhuya
4. Ciwa sebagai mahaguru, dengan ciri – ciri: berjanggut, berperut gendut, memiliki caturbhuya.
5. Durga, dengan ciri – ciri: bertangan delapan, memegang cakra, gada, anak panah, camara, cangkha dan busur.
6. Ghanewa, dengan ciri – ciri: candrakapala ( berkepala gajah), bertangan empat, belalai masuk dalam tempurung, yang disembah sebagai dewa ilmu dan pengusir bahaya.
Patung – patung agama Budha
1. Dhyani – Budha
2. Manusi – Budha
3. Dhyani – Budhisattwa
Untuk patung Budha umumnya sederhana dan tanpa hiasan, memakai jubah, rambut keriting, terdapat sanggul, di antara kening ada usna ( jerawat ).

3. Seni ukir
Seni pahat ukir nampak pada hiasan – hiasan di dinding – dinding candi. Yang menjadi pola hiasannya diantaranya,mahluk – mahluk ajaib yang disamarkan menjadi daun – daunan, di samping itu masih ada motif bunga teratai, baik yang masih kuncup maupun sudah berkembang penuh. Reief – relief yang terdapat pada dinding candi ada jga yang melukiskan suatu cerita, cerita – cerita ini diambil dari kitab kesusastrataan, seperti Ramayana
4. Seni Sastra
Kesusastraan pada zaman Hindu Budha dapat dibagi sebagai berikut:
1. Zaman Mataram ( abad ke-9 dan ke-10 )
a. Cerita kepahlawanan ( Epos)
i. Epos Ramayana, kitab ini dikarang oleh Walmiki pada permulaan tarik masehi, terdiri atas 7 jilid ( kanda ) dan digbah dalam bentuk syair sebanyak 24.000 sloka, berbahasa jawa kuno yang dibuat pada masa pemerintahan Dyah Balitung.
ii. Epos Mahabrata,kitab ini terdiri atas 18 jilid, yang masing – masing terdiri lagi atas bagian dan yang digubah dalam bentuk syair sebanyak 100.000 sloka
b. KItab Keagamaan: Sang Hyan Kamahayanikan, kitab ini mengandung ajaran agama Budha Mahayana yang bersifat Tantrayana.
2. Zaman Kediri ( abad ke-11 dan 12)
Hasil seni zaman Kediri berupa tembang Jawa kuno yang disebut kakawin, sebagai berikut:
1. Arjunawiwaha, karangan mpu Kanwa, isinya mengisahkan Arjuna yang bertapa, untuk mendapatkan senjata guna keperluan perang Kaurawa kelak.
2. Krisnayana,karangan mpu Triguna, isinya mengisahkan Krisna sebagai anak nakal sejati , tetapi disenangi orang karena suka menolong dan memiliki kesaktian
3. Smaradahana,karangan Mpu Darmaja, mengisahkan lenyapnya Kama dan Rasi dari kayangan
4. Bharatayudha, karangan mpu Sedah dan Mpu Panuluh, GUbahan Mahabrata, mengisahkan peperangan 18 hari antara Pandawa dan Kaurawa
5. Hariwangsa, karangan Mpu Panuluh, Inti ceritanya sama dengan Krisnayana, mengenai perkawinan Krisna dengan RUkmini
6. Gatotkacasraya, karangan Mpu Panuluh, mengisahkan perkawinan Abimanyu dengan Siti Sundari atas bantuan gatot kaca
7. Writtasancaya, karangan Mpu Tanakung, berisi 94 kakawin, diubah dalam bentuk cerita yang mengisahkan perjalanan sepasang burung belibis dalam usahanya menolong seorang putri yang kehilangan kekasihnya
8. Lubdhaka, karangan Mpu Tanakung ( sudah zaman Ken Arok ), mengisahkan seorang pemburu yang memuja Syiwa
3. Zaman Majapahit I ( abad ke-14)
Seni sastra zaman Majapahit I menggunakan bahasa jawa kuno, sebagai berikut:
1. Nagarakertagama,karangan Mpu Prapanca, mengisahkan situasi akhir Singashari dan pemerintahan Majapahit di bawah Hayam Wuruk.
2. Sutasoma, karangan Mpu Tantular, mengisahkan seorang anak raja yang meninggalkan keduniawian karena taatnya pada agama Budha.
3. Arjunawiwaha, karangan Mpu Tantular, mengisahkan raja rajsasa Rahwana yang tunduk kepada raja Arjuna Sahasrabahu
4. Zaman Majapahit II ( abad ke-15-16 )
Zaman ini disebut zaman pertengahan, seni sastranya menggunakan bahasa Jawa tengahan ada yang ditulis dalam bentuk kidung( tembang) ada pula yang gancaran. Seni sastra tersebut sebagai berikut:
1. Tantu Panggelaran, mengisahkan tugas Brahwana dan Wisnu, Bhatara guru untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. Karena pulau itu goyah, maka para dewa memindahkan Gunung Mahameru ke Jawa, reruntuhan gunung itu menjadi gunung – gunung yang berjajar di pulau Jawa,
2. Calon Arang, mengisahkan seorang janda yang menjadi juru tenung dan mempunyai putrid yang cantik, di masa pemerintahan Airlangga. KArena putrinya tidak ada yang meminang, maka membuat Calon Arang marah dan menyebarkan wabah ke selurun negeri. AKhirnya ia dibunuh oleh Mpu Bharada, atas permintaan raja Airlangga.
3. Pararaton, mengisahkan riwayat hidup Ken Arok sejak lahir sampai meninggalnya Ken arok.
Sedangkan kitab – kitab yang mengandung unsure sejarah antara lain sebagai berikut:
1. Sundayana
2. Panji WIjayakrama
3. Ranggawale
4. Sorandaka
5. Tantri Kamarindaka
5. Seni Wayang
Wayang diambil dari kitab Arjunawiwaha, merupakan pertunjukan yang digemari rakyat pada masapemerintahan Raja Airlangga
Macam – macam wayang sebagai berikut:
1. Wayang Purwa, yaitu wayang yang terbuat dari kulit, usianya lebih awal dan menceritakan tentang Mahabharata.
2. Wayang Gedog, yaitu wayang yang bahan dan bentuknya hampir sama dengan wayang purwa, tokoh – tokohnya menggunakan nama binatang.
3. Wayang Krucil, yaitu wayang yang bentuknya kecil, terbuat dari kepingan kayu untuk badan dan kulit untuk tangan, ceritanya mengambil cerita Panji, Damarwulan dan Ciung Wanara.
4. Wayang Golek, yaitu wayang yang terbuat dari kayu, berbentuk 3 dimensi dan bagian kepalanya terbuat dari kain atau tanah liat. Certa yang diambil antara lain dari cerita Mahabrata,Panji, Damarwulan,dll.
5. Wayang Beber, yaitu wayang yang dibuat dari kertas – kain dan ceritanya mengambil dari cerita – cerita rakyat.
6. Sistem Pemerintahan
Dalam system pemerintahan ini, akan dikembangkan kerajaan Hindu seperti Kutai Kartanegara, Tarumanegara, Mataram Hindu dari Dinasti Sanjaya, Kanjuruhan (Jatim), Kadiri, Majapahit, Sunda dan Bali. Sedangkan system pemerintahan pada kerajaan Budha yaitu kerajaan Sriwijaya, Mataram dari dinasti Syailendra dan Singhasari, raja kertanegara yang beraliran Tantrisme.

About these ads

Tentang taoefiq27

I'm only usual man
Tulisan ini dipublikasikan di Sejarah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s